Feeds:
Posts
Comments

Kebetulan lg browsing2 dan dapat info tentang penginapan murah di Bali. Tempat terkenal dimana komunitas backpacker menginap adalah di Jalan Poppies Lane II, banyak sekali penginapan murah dengan tarif 40-60 ribu per malam. Semoga membantu!

1. Cempaka II (Bersih & privasi) : 0361 757750 dengan Kadek
2. Ronta Bungalow (Bersih) Gg. Ronta 0361 754246. 50 m dari monumen Bom Bali I
3. Losman Arthawan ( 0361 752913 ) – Poppies Lane II
4. Dua Dara, Poppies Lane II.
5. Segara Sadhu Inn. 0361) 759909, Jl. Poppies II Gang 1 # 3A
6. Jus Edith Bungalows 0361) 750558, Gang Ronta, Poppies Lane II
7. Gora Beach Inn – Poppies Lane 2, Banjar Pengabetan (0361 – 752578)
8. Yunna Cottage – Jl. Pantai Kuta Gg Poppies 2 (0361 – 753015)
9. Tunjung Bali Inn – Poppies Lane 2 (0361 – 762990)
10. Palm Gardens Taman Nyiur – Poppies Lane 2 (0361 – 752198)
11. Okie House – Poppies Lane 2 ( 0361- 752081)
12. Mahendra – Poppies 1 Banjar Pengabetan (0361 – 752371)
13. Puri Agung – Poppies 1 (0361 – 750054)
14. Bungalows Taman Ayu – Poppies 1 (0361 – 751855)
15. Komala Indah – Poppies 1 No. 20 (0361 – 751422)

Sebuah Kegagalan

Kegagalan selalu terasa tidak menyenangkan. Itulah hidup. Ada yang berhasil, pasti ada yang gagal. Orang yang gagal inilah yang menjadikan yang lainnya berhasil. Begitu pula sebaliknya. Kata orang, cara menghibur diri ketika gagal adalah menerima kegagalan itu sendiri. Itu teori yang sering diucapkan kepada seseorang yang gagal. Tapi benarkah teori tersebut mudah diaplikasikan pada seseorang yang sedang mengalami kegagalan? Teori tersebut hanya sebuah penghiburan. Tidak ada yang bisa benar-benar memposisikan diri pada orang yang gagal walau empati sekalipun. Berat rasanya menerima kegagalan apalagi jika ternyata teman sejawat yang memiliki potensi yang sama maupun di bawah kita ternyata berhasil. Kemudian kita akan bertanya-tanya apa yang salah dengan diri kita sehingga gagal padahal sudah melakukan yang terbaik. Lebih sering lagi, manusia yang gagal mengumpat Tuhan. Salahkah itu? Kita hanya manusia. Mengumpat ketika gagal adalah manusiawi.

Apa faktor kegagalan? Banyak sekali. Sombong? Mungkin sekali. Kesombongan membuat manusia takabur sehingga tidak berusaha dengan maksimal. Lantas bagaimana jika sombong bahwa diri memiliki potensi besar untuk berhasil dan tetap tidak lupa untuk berusaha maksimal? Bisakah sombong yang terakhir ini dikatakan salah? Benarkah tidak ada manusia yang sombong di dunia ini? Salah besar! Sombong selalu ada di diri seseorang yang rendah hati sekalipun. Menjadi rendah hati adalah tuntutan social.  Senang bukan jika kita dipuji, “sudah pintar, cantik, tidak sombong pula.” Coba kita refleksi, benarkah menjadi rendah hati adalah keinginan tulus dari hati, bukan tuntutan dari orang-orang sekitar? Memiliki potensi menjadikan kita lebih dari orang yang tidak memiliki potensi seperti yang kita miliki. Potensi inilah yang sekiranya membuat manusia memiliki rasa sombong (sedikit maupun banyak). Kadang kita mulai menempatkan diri sedikit lebih tinggi dari orang lain, yah sedikit eksklusif. Tetapi ketika mengalami kegagalan, rasanya jatuh dan sakit sekali.

Hidup merupakan sebuah keidakpastian. Saat ini sedang mengendarai mobil, sedetik kemudian bisa saja tertabrak.  Tidak ada yang pasti. Kesuksesan dan kegagalan adalah bagian dari ketidapastian. Bersahabatlah dengan keduanya. Cari kesempatan yang lain. Jika tidak ada, ciptakan!

Surat Permohonan Vrijwaring

Semarang,  16 November 2009

Perihal : Surat Permohonan Vrijwaring

Lamp   : Surat Kuasa

Kepada Yth.

Ketua Pengadilan Negeri Semarang

Jl. Siliwangi No. 512 Krapyak

Di Semarang

Dengan Hormat,

Yang bertandatangan di bawah ini, Yuliana, SH., Bernardo Danu Djaya, SH., dan Henri Yudianto, SH., Advokat pada Justice Law Firm di Jalan Pawiyatan Luhur No. 16 Semarang, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal  9 Oktober 2009 (terlampir) bertindak secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri untuk dan atas nama :

PT Rumah Sakit Bagas Waras (RS Bagas Waras), berkedudukan hukum di Jalan Sehat No. 1 Semarang sebagai Tergugat dalam perkara No. 000/Pdt.G/2009/PN.Smg melawan Tuan Djo Suntikna sebagai Penggugat yang akan diperiksa di muka sidang pada hari Senin, 22 November 2009 yang akan datang.

Dengan ini ini mohon supaya Pengadilan Negeri Semarang memanggil juga dua pihak yang turut bertanggungjawab dalam perkara ini yaitu :

  1. dr. Yohanes Gidieon, Sp.B., 37 tahun, dokter bedah, bertempat tinggal di Jalan Sudirman No. 3 Semarang, sebagai pihak ketiga dalam perkara ini.
  2. Tuan Danu Djaya, 40 tahun, bertempat tinggal di Jalan Liku-Liku III No. 300 Semarang, sebagai pihak keempat dalam perkara ini.

Adapun alasan-alasan pemohon adalah sebagai berikut :

–          dr. Yohanes Gidieon, Sp.B. bukan pegawai tetap psda RS Bagas Waras melainkan sebagai dokter mitra yaitu dokter yang bekerja berdasarkan perjanjian kerjasama dengan RS Bagas Waras.

–          Bahwa dalam perjanjian kerja dokter mitra antara RS Bagas Waras dengan dr. Yohanes Gidieon, Sp.B. tertanggal 22 Januari 2008 disebutkan bahwa dokter mitra bertanggungjawab sepenuhnya atas resiko/kerugian yang timbul sebagai akibat dari perbuatan malpraktik yang dilakukan dokter.

–          Bahwa atas dasar perjanjian tersebut, RS Bagas Waras merasa tidak harus bertanggungjawab atas gugatan Penggugat.

–          Tuan Danu Djaya sebagai orang yang memberi pekerjaan kepada Penggugat seharusnya juga ikut bertanggungjawab karena pekerjaan yang diberikan oleh Tuan Danu Djaya lah yang menyebabkan Penggugat tersetrum aliran listrik. Hal ini sesuai dengan KUHPerdata Pasal 1367 yang menyatakan bahwa ” Majikan-majikan dan mereka yang mengangkat orang-orang lain untuk mewakili urusan-urusan mereka adalah bertanggungjawab tentang kerugian yang diterbitkan oleh pelayan-pelayan atau bawahan-bawahan mereka di dalam melakukan pekerjaan untuk mana orang-orang ini dipakainya.”

Oleh karena itu, berdasarkan alasan tersebut di atas, Ketua Pengadilan Negeri Semarang dapat kiranya mengabulkan permohonan Tergugat.

Hormat Kuasa Hukum Tergugat,

Yuliana, SH.

Bernardo Danu Djaya, SH.

Henri Yudianto, SH.

Surat Permohonan Intervensi

Semarang,  21 September 2009

Perihal : Surat Permohonan Intervensi

Lamp   : Surat Kuasa

Akta Jual Beli

Surat Pajak Bumi dan Bangunan

Kepada Yth.

Ketua Pengadilan Negeri Semarang

Jl. Siliwangi No. 512 Krapyak

Di Semarang

Dengan Hormat,

Yang bertandatangan di bawah ini, Yuliana, SH., Bernardo Danu Djaya, SH., dan Henri Yudianto, SH., Advokat pada Justice Law Firm di Jalan Pawiyatan Luhur No. 16 Semarang, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal  19 Sptember 2009 (terlampir) bertindak secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri untuk dan atas nama :

Yustina Ayu, umur 30 tahun, pekerjaan wiraswasta, bertempat tinggal di Jl. Magelang No. 40 Semarang, dengan ini mengajukan permohonan pada bapak ketua, supaya pemohon dapat dapat dipanggil dan didengar keterangannya sebagai pihak pada Pengadilan Negeri Semarang yang akan dilaksanakan pada hari Senin, 28 November 2009 dalam perkara perdata No. 010/Pdt.G/2009/PN.Smg antara Paskalis Hermawan sebagai penggugat, melawan David Pasha sebagai tergugat, dengan alasan-alasan sebagai berikut :

  • Bahwa dalam gugatan penggugat yang mendalilkan bahwa sebidang tanah Hak Milik seluas 420 m², terletak di Kota Semarang, Kecamatan Gajah Mungkur, Kelurahan Gajahduduk, setempat dikenal dengan Jl. Gajah Selatan No. 11, dengan batas-batas :
    • Sebelah selatan      : Jalan Gajah Selatan;
    • Sebelah barat         : Rumah No. 10 atas nama Geotji Budiono;
    • Sebelah utara         : Sungai Liman Betawi;
    • Sebelah timur        : Jalan Gajah Raya

Untuk mudahnya selanjutnya disebut sebagai ”tanah sengketa” sebagai milik penggugat adalah tidak benar. Pemilik sebenarnya adalah pemohon sendiri.

  • Bahwa dalam gugatan penggugat yang mendalilkan pada tahun 2007 penggugat telah membeli dari tergugat tanah sengketa, padahal sebelumnya pada tahun 2005 tanah sengketa tesebut telah diperjual-belikan oleh tergugat pada pemohon.
  • Bahwa pemohon pada waktu itu membeli tanah sengketa dengan harga Rp 390.000.000,00 (tiga ratus juta sembilan puluh ribu rupiah) yang pembayarannya dilakukan pada tanggal 22 Maret 2005 di kantor kelurahan Gajahduduk dengan disaksikan oleh Lurah, Sekretaris Kelurahan, dan Ketua RT setempat.
  • Bahwa jual beli tanah tersebut dilakukan pada tanggal 25 April 2005 di hadapan PPAT-Camat Gajahmungkur, Dra. Noviana (terlampir). Semua biaya sudah terbayar lunas, dalam hal pengurusan ke BPN di serahkan pada Sekretaris Kelurahan Gajahduduk, Titis Eka. Namun sampai sekarang belum ada sertifikat atas nama pemohon. Sejak jual beli tersebut, wajib pajak bumi menjadi atas nama dan dibayar oleh pemohon (terlampir)
  • Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, pemohon mohon pada bapak ketua supaya dapat menerima permohonan ini dan memtuskan sebagai hukum :
  1. Menyatakan pemohon sebagai pemilik sah dari tanah sengketa;
  2. Menyatakan jual beli tanah sengketa antara penggugat dan tergugat tidak sah menurut hukum;
  3. Menyatakan tergugat telah melakukan wanprestasi;
  4. Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara ini.

Hormat Kuasa Hukum Pemohon,

Yuliana, SH.

Bernardo Danu Djaya, SH.

Henri Yudianto, SH.

Surat Gugatan Perdata

SURAT GUGATAN

Semarang, 7 September 2009

Hal      : Gugatan Wanprestasi dalam jual beli tanah

Lamp   : 3

Kepada Yth.

Ketua Pengadilan Negeri

Kendal

Dengan hormat,

Yang bertandatangan di bawah ini, kami :

Bernardo Danu Djaya, SH., Yuliana, SH., Henri Yudianto, SH., Advokat, berkantor di Jalan Sukasuka Nomor 13 Semarang, berdasarkan surat kuasa tanggal  24 Agustus 2009, kuasa dari Ny. Lindrawati, bertempat tinggal di Jalan Liku-Liku Nomor 1 Semarang, yang selanjutnya disebut pihak PENGGUGAT.

Bahwa penggugat melalui sepucuk surat ini, mengajukan gugatan kepada  Nugroho, bertempat tinggal di Jalan Simpang Siur Nomor 3 Salatiga, yang selanjutnya disebut pihak TERGUGAT.

Adapun duduk perkaranya adalah sebagai berikut :

  1. Tuan Swargi dan Nyonya Lindrawati adalah sepasang suami istri, keduanya merupakan orang Indonesia Asli.
  2. Pasangan suami istri ini menikah pada tahun 1991 dan telah dikaruniai 3 orang anak, yaitu Kusuma (lahir tahun 1992), Pandi (lahir tahun 1994), dan Indriyanti (lahir tahun 1996). Kusuma telah menikah dan tinggal bersama suaminya di Jalan Sejahtera Nomor 2 Kudus.
  3. Bahwa pada tahun 2007, Tuan Swargi membeli sebidang tanah sawah dari Tuan Nugroho . tanah tersebut adalah HM No. 44 yang terletak di Kabupaten Kendal, Kecamatan Bransong, Desa Sidorejo dengan luas 5.555m2 dengan harga Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah). Batas-batas tanah tersebut adalah :

Sebelah Selatan           : jalan kampung;

Sebelah Barat              : sungai;

Sebelah Utara              : tanah sawah HM 55 atas nama Agabal;

Sebelah Timur             : tanah sawah HM 45 atas nama Widayanti.

  1. Tanah sawah tersebut sudah dibayar lunas pada saat penandatanganan akta jual beli di hadapan PPAT, Nyonya Noviana, S.H., dan telah dilakukan balik nama serta telah diterbitkan sertifikat HM atas nama Tuan Swargi.
  2. Dalam perjanjian jual beli tersebut, disepakati bahwa sebidang tanah sawah tersebut baru akan diserahkan kepada pembeli pada akhir musim panen tahun 2008 (Juli 2008) karena pada saat itu sebidang tanah sawah tersebut masih dalam penyewaan pihak ketiga.
  3. Bahwa semasa hidupnya Tuan Swargi telah berupaya untuk meminta penyerahan tanah sawah dari Tuan Nugroho namun tidak membuahkan hasil. Hingga saat ini, tanah tersebut belum diserahkan kepada Tuan Swargi.
  4. Tuan Swargi meninggal pada tanggal 20 November 2008. Upaya untuk meminta penyerahan tanah tersebut diteruskan oleh istrinya, Ny. Lindrawati, namun tetap tidak membuahkan hasil.
  5. Atas keterlambatan penyerahan sebidang tanah sawah tersebut mengakibatkan pihak PENGGUGAT telah mengalami kerugian hasil panen sebesar 35 ton. Terkait dengan hal ini, maka PENGGUGAT bermaksud untuk meminta ganti rugi kepada pihak TERGUGAT.
  6. Sebagai upaya paksa terkait penyerahan sebidang tanah sawah tersebut, pihak PENGGUGAT mengajukan permohonan pada Hakim untuk membebankan dwangsom pada pihak TERGUGAT          atas keterlambatan penyerahan tanah. Dwangsom dihitung Rp 100.000 per hari.
  7. Berdasarkan akta jual beli di hadapan PPAT, Nyonya Noviana, S.H., dan telah dilakukan balik nama serta telah diterbitkan sertifikat HM atas nama Tuan Swargi, maka pihak PENGGUGAT memohon pada Hakim untuk mengabulkan uit voerbaar bij voorraad . Hal ini berdasar Pasal 180 HIR.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, maka PENGGUGAT memohon kepada Ketua Pengadilan Negeri Kendal agar :

PRIMAIR

  1. Menerima dan mengabulkan gugatan untuk seluruhnya.
  2. Menghukum TERGUGAT untuk segera menyerahkan sertifikat kepada PENGGUGAT.
  3. Menghukum TERGUGAT  untuk membayar ganti rugi hasil panen sebanyak 35 ton.
  4. Mengabulkan permohonan dwangsom terhadap TERGUGAT atas keterlambatan penyerahan tanah sebesar Rp 100.000 per hari.
  5. Menghukum TERGUGAT dengan menyatakan keputusan ini segera dapat dijalankan dengan serta mesta walaupun ada verset, banding atau kasasi (uit voobaar bijvoorraad).

SUBSIDAIR
Menetapkan putusan yang seadil-adilnya

Demikian gugatan ini kami ajukan, atas perhatian Ketua Pengadilan Negeri Kendal, kami ucapkan terima kasih.

Hormat Kami,
Kuasa Hukum Penggugat

(Bernardo Danu Djaya, SH.)

(Yuliana, SH.)

( Henri Yudianto, SH.)

Surat Gugatan Class Action

Berhubung susah banget nih cari contoh surat gugatan class action, saya lampirkan hasil tugas.

Tidak sempurna sih, tapi minimal bisa membantu.

SURAT GUGATAN PERWAKILAN KELOMPOK

Semarang, 31 Agustus 2009

Hal      : Gugatan Perwakilan Kelompok

Lamp   : 1

Kepada Yth.

Ketua Pengadilan Negeri

Demak

Dengan Hormat,

Yang bertandatangan di bawah ini, kami :

Bernardo Danu Djaya, SH., LL.M, Yuliana SH., LL.M, Henri Yudianto, SH. LL.M,, Advokat, berkantor di Jalan Sukakasih Nomor 13 Demak, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 31 Agustus 2009, bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa baik sendiri maupun bersama-sama mewakili kepentingan warga Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak yang diwakili oleh wakil kelompoknya yaitu :

  1. Ny. Titis Eka, guru, bertempat tinggal di Desa Sidogemah RT 01/RW 03 Kecamatan Sayung, Kabupaten  Demak;
  2. Tn. Tjitra Budiono, nelayan, bertempat tinggal di Desa Sidogemah RT 01/RW 03 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak;
  3. Tn. Hokgianto, petani tambak, bertempat tinggal di Desa Sidogemah RT 01/RW 03 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak;
  4. Tn. Arifianto, nelayan, bertempat tinggal di Desa Sidorawuh RT 02/RW 04 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak;
  5. Ny. Junieta, ibu rumah tangga, bertempat tinggal di Desa Sidorawuh RT 02/RW 04 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak;
  6. Tn. Bondan Aryo, petani tambak, bertempat tinggal di Desa Sidorawuh RT 02/RW 04 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak;
  7. Tn. Yudianto, nelayan, bertempat tinggal di Desa Badan RT 03/RW 05 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak;
  8. Ny. Elen Kavarina, sekretaris desa, bertempat tinggal di Desa Badan RT 03/RW 05 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak;
  9. Tn. Pracoyo, buruh, bertempat tinggal di Desa Badan RT 03/RW 05 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak;
  10. Ny. Jean Evelyn, pengusaha ikan asin, bertempat tinggal di Desa Loireng RT 03/RW 05 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak;
  11. Ny. Kristiyanah, kepala desa, bertempat tinggal di Desa Loireng RT 03/RW 05 Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Wakil kelompok tersebut di atas mewakili anggota kelompoknya yang berasal dari empat desa  yaitu Desa Sidogemah, Desa Sidorawuh, Desa Badan, dan Desa Loireng yang terletak di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Kemudian, wakil kelompok tersebut di atas menunjuk Ny. Titis Eka, guru, bertempat tinggal di Desa Sidogemah RT 01/RW 03, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak sebagai Koordinator Kelompok.selanjutnya disebut sebagai PENGGUGAT.

Bahwa Penggugat melalui sepucuk surat ini, mengajukan gugatan kepada PT Kembang Sawur yang diwakili oleh Direktur PT Kembang Sawur, berkantor di Jalan Raya Demak Km. 12 Kabupaten Demak, yang selanjutnya disebut pihak TERGUGAT.

Adapun duduk perkaranya adalah sebagai berikut :

  1. Di Jalan Raya Demak Km. 12 berdiri sebuah perusahaan kertas bernama PT Kembang Sawur yang mulai beroperasi bulan Januari 2007.
  2. Dalam kegiatan produksinya, PT Kembang Sawur membuang limbahnya langsung ke Sungai Sayung yang seharusnya diolah dahulu di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
  3. Pembuangan limbah langsung ke Sungai Sayung tanpa melalui proses IPAL  terlebih dahulu menyebabkan Sungai Sayung tercemar dan mengandung racun kimia.
  4. Sungai Sayung merupakan sumber penghidupan warga di Kecamatan Sayung, Demak. Warga menggunakan air Sungai Sayung untuk keperluan hidup sehari-hari seperti mandi, air minum, memasak, mencuci, serta difungsikan juga untuk WC.
  5. Dengan tercemarnya Sungai Sayung, warga tidak lagi bisa menggunakan sungai tersebut untuk keperluan hidup sehari-hari seperti mandi, air minum, memasak, mencuci, serta difungsikan juga untuk WC. Warga dihantui rasa cemas karena pengeluaran rumah tangganya membengkak sedangkan beberapa warga telah kehilangan sumber penghasilannya. Kondisi kesehatan pun menurun. Sungai Sayung yang dahulu digunakan untuk mandi oleh warga baik tua maupun muda sekarang tidak lagi terlihat sebab mandi di Sungai Sayung berarti penyakit. Banyak warga yang menderita penyakit kulit/gatal-gatal gara-gara mandi di sungai tersebut.
  6. Sejak air Sungai Sayung sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi, maka warga harus membeli air bersih yang dijual dalam jerigen dengan harga Rp 1.000/jerigen (18 liter). Dalam sehari, dengan prinsip hemat air, setiap orang rata-rata membutuhkan 1 jerigen/hari. Warga yang tidak cukup keuangannya, memilih untuk tidak mandi selama beberapa hari. Bahkan untuk beberapa hari mendatang, warga harus menampung sanak keluarga yang mudik untuk merayakan lebaran di kampung halamannya.
  7. Akibat dari pencemaran air Sungai Sayung tersebut, ribuan warga di Kabupaten Demak menderita kerugian. Warga tersebut adalah:

–          Desa Sidogemah terdapat 73 Kepala Keluarga (selajutnya disebut KK) yang berjumlah 305 orang,

–          Desa Sidorawuh terdapat 116 KK (459 orang),

–          Desa Badan terdapat 54 KK (215 orang), dan

–          Desa Loireng terdapat 44 KK (170 orang)

Total warga yang menderita kerugian adalah 1.149 orang.

  1. Warga Kecamatan Sayung memiliki mata pencaharian yang berbeda- beda seperti guru, nelayan, petani tambak, ibu rumah tangga, sekretaris desa, buruh, pengusaha ikan asin, dan Kepala Desa.
  2. Keluarga yang paling menderita adalah keluarga nelayan. Selain tidak bisa memanfaatkan air Sungai Sayung untuk keperluan sehari-hari, mereka juga kehilangan mata pencaharian karena ikan di sungai telah mati akibat tercemar racun limbah. Sebelum sungai tersebut tercemar, seorang nelayan setiap hari bisa menghasilkan ikan senilai Rp 50.000. Jumlah nelayan mencapai 35% dari jumlah KK di 4 desa tersebut.
  3. Keluarga petani tambak juga menderita kerugian yang kurang lebih sama. Jumlah mereka mencapai 11% dari jumlah KK. Sudah 2 tahun lebih para petani tambak tidak bisa menikmati hasil tambak karena air Sungai Sayung tercemar sehingga semua hasil rambak mati, padahal setiap tahun mereka dapat memperoleh penghasilan sekitar 45 juta baik dari tambak udang, bandeng, maupun kepiting. Para nelayan tambak rata-rata memiliki tambak seluas 1 Ha. Selain itu, para nelayan tambak juga mengalami kesulitan dalam melakukan pengembalian pinjaman modal ke Bank BRI.
  4. Pada Bulan April 2007, warga didampingi oleh Kepala Desa masing-masing sudah mengadakan negosiasi dengan PT Kembang Sawur. Dari pihak PT Kembang Sawur diwakili oleh Dra. Maria Lindrawati, SH., MM., selaku Direktur PT Kembang Sawur dan Yesica Kusuma, SH. Selakuy Advokat PT Kembang Sawur. Dalam negosiasi tersebut dicapai kesepakatan bahwa PT Kembang Sawur bersedia membuat 4 unit IPAL yang harus diselesaikan dalam bulan Juni 2007.
  5. Pada kenyataannya, PT Kembang Sawur tidak menepati janji pada warga Kecamatan Sayung untuk membangun IPAL yang telah disepakati dalam negosiasi.
  6. Pada bulan Juli 2009 yang lalu, atas prakarsa Kepala Camat Kecamatan Sayung, Drs. Edo Tjiptadi, air Sungai Sayung telah diteliti oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kadar limbah PT Kembang Sawur yang dibuang ke Sungai Sayung telah melampaui ambang batas sebab dalam proses produksinya banyak menggunakan soda kaustik. Akibatnya, air Sungai Sayung mengandung limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya) dengan PH: 10,77; BOD(Biochemical Oxsygen Demand); 240 Mg/liter, dan COD(Chemical Oxsygen Demand); 6.000 Mg/liter. Sedangkan batas cair yang normal adalah BOD:150Mg/liter, dan PH; 6-9.
  7. Bahwa tercemarnya Sungai Sayung merupakan kelalaian Tergugat yang tidak membangun IPAL. Kelalaian dari Tergugat ini merupakan Perbuatan Melawan Hukum yaitu terhadap pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
  8. Bahwa Penggugat menuntut agar Tergugat segera membangun IPAL yang harus diselesaikan dalam jangka waktu dua bulan setelah adanya putusan pengadilan.
  9. Bahwa Penggugat menuntut agar Tergugat mengembalikan fungsi Sungai Sayung seperti sedia kala.
  10. Bahwa Penggugat menuntut agar Tergugat memberikan ganti rugi terhadap pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga serta segala kerugian yang timbul akibat tercemarnya Sungai Sayung.
  11. Bahwa Penggugat menuntut ganti rugi sebagai berikut :

–  Kelompok Guru, sekretaris desa, buruh,                 :  @ Rp   21.510.000/orang

Pengusaha ikan asin, kepala desa, dan ibu rumah

tangga

Dengan rincian sebagai berikut :

* biaya pembelian air bersih selama 2 tahun

Rp 2.000 (2 jergen air) x 365 x 2                             =  Rp   1.460.000

* biaya pengobatan penyakit kulit                              =  Rp        50.000

* kerugian immaterial                                                  =  Rp 20.000.000

–  Nelayan                                                                    :       Rp  37.960.000/orang

Dengan rincian sebagai berikut :

*  ganti rugi penghasilan selam 2 tahun

Rp 50.000/hari x 365 x 2                                         = Rp 58.010.000

*  biaya pembelian air bersih selama 2 tahun

Rp 2.000 (2 jergen air) x 365 x 2                             =  Rp   1.460.000

* biaya pengobatan penyakit kulit                              =  Rp        50.000

* kerugian immaterial                                                  =  Rp 20.000.000

– Petani tambak                                                                 : Rp111.510.000/orang

Dengan rincian sebagai berikut :

*  ganti rugi penghasilan selam 2 tahun

Rp 45.000.000/tahun x 2                                         = Rp 90.000.000

*  biaya pembelian air bersih selama 2 tahun

Rp 2.000 (2 jergen air) x 365 x 2                             =  Rp   1.460.000

* biaya pengobatan penyakit kulit                              =  Rp        50.000

* kerugian immaterial                                                  =  Rp111.510.000

  1. Adapun mekanisme pemberitahuan kepada anggota kelompok  dilakukan melalui dua cara yaitu :

–          Radio,

–          Pengumuman yang ditempel di Kantor Camat dan Kantor Lurah setempat.

  1. Adapun mekanisme pendistribusian ganti rugi ini adalah :

–          Pendistribusian ganti rugi dilakukan melaui Kepala Camat Kecamatan Sungai Sayung dengan membentuk sebuah tim pendistribusian berjumlah 20 orang yang terdiri dari masing-masing perwakilan dari Desa Sidogemah, Desa Sidorawuh, Desa Badan, dan Desa Loireng.

–          Pendistribusian dilaksanakan 3 hari setelah dana ganti rugi dicairkan.

–          Pendistribusian dilaksanakan di Kantor Camat.

–          Pendistribusian dilakukan dengan menggunakan nomor antrian supaya tetap tertib dan terkendali.

  1. Bahwa seluruh biaya perkara ditanggung oleh pihak Tergugat.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, maka Penggugat memohon kepada Ketua Pengadilan Negeri Demak agar :

PRIMAIR

  1. Menerima dan mengabulkan gugatan untuk seluruhnya.
  2. Menghukum Tergugat untuk segera membangun IPAL yang harus diselesaikan dalam jangka waktu dua bulan setelah adanya putusan pengadilan.
  3. Menghukum Tergugat untuk mengembalikan fungsi sungai seperti sedia kala.
  4. Menghukum Tergugat  untuk membayar ganti rugi terhadap pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga serta segala kerugian yang timbul akibat tercemarnya Sungai Sayung yaitu sebesar :

–  Kelompok Guru, sekretaris desa, buruh,                 :  @ Rp   21.510.000/orang

Pengusaha ikan asin, kepala desa, dan ibu rumah

tangga

–  Nelayan                                                                    :       Rp  37.960.000/orang

– Petani tambak                                                                 : Rp111.510.000/orang

  1. Menghukum Tergugat untuk menanggung seluruh biaya perkara.
  2. Menghukum Tergugat dengan menyatakan keputusan ini segera dapat dijalankan dengan serta mesta walaupun ada verset, banding atau kasasi (uit voobaar bijvoorraad).

SUBSIDAIR
Menetapkan putusan yang seadil-adilnya

Demikian gugatan ini kami ajukan, atas perhatian Ketua Pengadilan Negeri Demak, kami ucapkan terima kasih.

Hormat Kami,
Kuasa Hukum Penggugat

(Bernardo Danu Djaya, SH., LL.M.,)

(Yuliana, SH., LL.M.,)

( Henri Yudianto, SH., LL.M.,)

Manila

Ini perjalanan yang termasuk kategori murah.

Biaya pesawat : Cebu Airlines PP Rp 2.500.000.

Filipina merupakan Negara Kepulauan seperti Indonesia.

Di Manila, terdapat banyak sekali pusat perbelanjaan yang tidak kalah mewahnya seperti di Jakarta.

Bahkan ada gerai branded yang tidak ada di Jakarta tetapi ada d Filipina.

Kehidupan mereka hampir sama dengan di Indonesia. Bahasa yang digunbakan antara lain Tagalog, Inggris, Spanyol.

Kadang mereka berbicara dengan mencampurkan ketiga bahasa tersebut. Orang-orang disana senang bernyanyi sehingga mereka tidak malu-malu jika diminta untuk bernyanyi.

Soal makanan, lidah saya tidak cocok.

Akhirnya selama disana saya makan pizza hut

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.